Skip to content
Lokey

Command Palette

Search for a command to run...

5 min readBlog

Lo harus tau, sebelum gue melewati momen ini, gue termasuk orang yang merinding dan gak suka dengan kata-kata let it flow.

Hiduplah dengan tenang

Selamat sore, dan apa kabar?

Singkat cerita, hampir satu bulan website https://lokey.bio mati total. Sebuah missed opportunity bagi para pengunjung baru dari profil Instagram @_lokey666 untuk mengenal internet persona yang sengaja gue ciptakan itu lebih dalam.

stonkn't visitors :(

Semua ini terjadi karena gue lupa bahwa negara yang sedang gue tunggangi ini tidak dalam keadaan baik-baik saja, kurs Dollar-Rupiah gak pernah berhenti naik. Alhasil, tagihan $68 untuk domain yang semula gue prediksi masih di bawah satu juta, berubah jadi di atas satu juta per tahun.

Auto-debet dari sistem pembayaran Vercel gagal untuk narik saldo virtual pocket "Infrastructure needs" di Bank Jago gue, dan boom, mati total.

Dan yak, kali ini gue harus mengakui bahwa gue kurang aware dengan perubahan harga digital goods yang naik terus. Lesson learned.

Apakah tuhan sedang kasih gue instruksi untuk cari kerja dengan basis gaji Dollar US?

Gak tau. Wkwk.

Anyway... Gue punya cerita.

Lo harus tau, sebelum gue melewati momen ini, gue termasuk orang yang merinding dan gak suka dengan kata-kata:

let it flow.

Semacam "gimana nanti", "jalanin aja dulu", atau "Tuhan udah bikin jalan buat lo, sans aja". Saat itu, menurut gue, "let it flow" adalah sebuah ungkapan yang cocok diungkapkan oleh orang-orang pemalas yang gak punya rencana dan renjana.

Sebagai seorang over thinker akut, gue akan hidup lebih tenang kalau segala sesuatu bisa gue ukur atau prediksi. Gue adalah tipe orang yang rela bangun sampai subuh untuk cari tau dimensi ke-4 secara visual itu kayak gimana, dibanding harus tidur cepat dan terima bahwa manusia tidak capable untuk memproyeksikan dimensi ke-4.

Jadi, kalau gue rela gak tidur demi mencari fakta akan sesuatu yang sifatnya abstrak, gimana menurut lo tentang sesuatu yang punya impact langsung untuk kehidupan gue?

Apalagi, hal yang gak bisa gue ukur dan prediksi adalah nasib dari sumur tempat gue minum.

Sejak awal Januari 2026, kabar simpang siur masuk ke kuping gue hampir setiap hari, dan harus gue pendam sendiri. Sampai awal Juni 2026, beberapa rekan mulai kasih validasi yang bikin semuanya tambah gak jelas kayak, "it's over but we do still have a chance".

Rasanya? Gak enak banget.

Masalahnya justru di "we do still have a chance" ini. Yang namanya chance, itu bukan sesuatu yang absolute dan jelas bukan sesuatu yang bisa gue ukur hingga saat ini persentasenya. Kayak, bisa aja chance ini ada di nilai 0.1%, 99.9%, atau in-between.

Ibaratnya kalo di dunia programming, lo udah nulis 100 if-else conditions, tapi sekarang lo harus tambah 1 if-else lagi di keputusan terakhir dengan predikat kayak:

// ceritanya, ini adalah moral function buat nentuin
// apakah gue harus lakukan sebuah tindakan atau engga
function shouldDo(): boolean {
   // variable keputusan awal
   let willDo = true;
   // variable yang gue gak tau nilainya
   let willBeLucky = UNKNOWN_CHANCE === 1; 
 
   // 100 kondisi if-else yang males gue tulis yang
   // pada akhirnya, ditentukan oleh 1 variable random
   if (willBeLucky) return willDo;
   return false;
}

Pada intinya, gak ada bedanya dengan gue main "Russian roulette".

Ketidakpastian ini, bikin proses decision making untuk kehidupan personal ataupun profesional gue jadi berantakan gak jelas.

Karena default setting gue adalah sangat gak suka dengan ketidakpastian, tentunya banyak upaya yang gue lakukan untuk cari tau nilai dari UNKNOWN_CHANCE tadi kayak:

  • Cari tau fakta terkini tentang situasi aktual dari sumur tempat gue minum.
  • Cari tau besar potensi gue untuk tetep bisa minum dari sumur itu.
  • Cari tau faktor apa yang berpengaruh untuk menentukan apakah gue bisa tetep minum dari sumur itu.

Dan masih banyak hal subtle lain yang mungkin tanpa sengaja gue lakukan demi mencari nilai dari UNKNOWN_CHANCE itu.

Masalah baru muncul, semakin banyak gue cari tau, semakin berisik isi kepala gue dan semakin blur visi untuk masa depan gue sendiri.

Tiba suatu momen dimana salah satu kolega gue minta untuk melakukan beberapa improvement dari karya yang gue bikin.

Untungnya, kolega satu ini enak banget buat diajak brainstorming ide untuk improvement nya. Dia cukup tau apa yang dia butuh.

Meskipun kepala ini masih mumet dengan ketidakpastian, kolega satu ini berhasil untuk bikin gue semangat kerja lagi. Dengan lantangnya gue bilang:

Gue: "challenge gue, deadline kapan?"

Kolega: "kalau ini terserah dirimu aja, belom ada deadline."

Gue paham, intensi kolega ini adalah baik dengan tidak memberikan gue pressure, tapi lagi-lagi, sebuah ketidakpastian. Ya sudah, gue bawa fun aja:

Gue: "tahun depan (optional, jika sumurnya masih ada)."

Kolega gue jawab gini:

justru itu, berikan yang terbaik, sebelum tiada.

Perlu 3 menit untuk gue proses kalimat ini dengan baik dan hingga akhirnya muncul sebuah pertanyaan di kepala gue:

"What storm has this person walked through?"

Apakah keresahan atas ketidakpastian ini sebenarnya hal yang gak begitu perlu gue khawatirkan? Apakah selama ini gue overreacting? Apakah gue kurang bersyukur?

Per paragraf ini gue tulis, gue belum nemu jawaban pasti akan pertanyaan follow up yang muncul dari sebuah statement yang datang dari kolega gue. Mungkin karena gue belum bisa berpikir jernih, atau sebenarnya gue gak se-tough yang selama ini gue bayangkan.

Gue punya kebiasaan untuk dengar radio selama perjalanan pulang ke rumah, yang biasanya macet gak karuan khas kota metropolitan ini. Google Maps di ponsel gue bilang kalau waktu yang tersisa sampai rumah adalah 23 menit lagi, penyiar radio mempersembahkan jiwa yang lelah ini dengan sebuah lagu dari Bernadya yang ini:

Anggap saja besok ini semua hilang
Cerita seperti apa yang mau kau kenang

Dua baris lirik ini, hit me like a fucking train.

Kalaupun di masa mendatang sumur tempat gue minum itu lenyap, dan gue harus cari sumur lain untuk tetap hidup, apa yang pengen gue tinggalkan ke warga sekitar sumur itu? Apakah gue ingin dikenang sebagai manusia yang tiap harinya penuh dengan mumet dan misuh seperti beberapa bulan ke belakang? Atau gue ingin dikenang sebagai orang yang bawa nuansa positive dan helpful bagi warga sekitar untuk ambil air minum di sumur tersebut?

Lo pasti tau kan gue pilih yang ke dua?

Dan muncul flashback di kepala gue tentang apa yang kolega gue pernah bilang.

justru itu, berikan yang terbaik, sebelum tiada.

Dua individu dengan latar belakang yang berbeda, mengerucut ke satu hal yang sama.

Sejak momen itu, gue memutuskan untuk jadi orang yang tetap positive dan helpful.

Tanpa gue sadari, keputusan ini secara gak langsung bikin gue jauh lebih tenang dalam proses decision making untuk kehidupan personal dan profesional. Gue rasa, setelah bisa terima bahwa gak semua hal perlu langsung ada jawabannya itu gak masalah dan hal yang wajar. Berusaha untuk kasih yang terbaik setiap hari aja udah cukup untuk bikin kepala gue gak berisik.

Dan yang paling penting, lo gak perlu pusingkan sesuatu yang gak bisa lo kontrol. Mungkin ini yang dulu gue benci dari "let it flow". Ternyata bukan tentang malas ataupun gak punya rencana dan renjana, tapi tentang gak memusingkan hal yang emang gak bisa gue kontrol.

Gue tau, ini klise maksimal. Tapi kalo lo ada di posisi ini, coba deh.

Hiduplah dengan tenang.

Published in Blog

Related

21 Guns

3 min read

Vanilla Cream

4 min read

It is Wake Up O'clock

2 min read

2019, Take me back

3 min read

Life update

4 min read